LSIN: Elektabiltas PDIP Unggul Tipis Atas Golkar

Jakarta: Hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) menunjukkan bahwa elektabiltas PDIP unggul tipis atas Golkar, sementara elektabilitas Demokrat semakin menurun. PDIP menjadi partai pilihan publik dan mampu menggesar elektabilitas Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu 2009 dan Partai Golkar sebagai pemenang Pemilu 2004.

Survei nasional LSIN elektabilitas Parpol ini dilakukan rentang waktu 1-15 Oktober 2013, melibatkan 1.500 responden dari 34 Provinsi di Indonesia di tambah beberapa responden dari luar negeri dengan maksud untuk menjajaki aspirasi publik terhadap elektabilitas Parpol.

Direktur eksekutif LSIN, Yasin Mohammad, mengatakan ketika responden diajukan pertanyaan jika Pemilu dilaksanakan hari ini, Anda akan memilih partai apa? Responden sebagian besar memilih PDIP, disusul kemudian Partai Golkar, Partai Demokrat, Gerindra, dan PKS.

Berdasarkan hasil survei LSIN elektabilitas PDIP menempati posisi teratas dengan selisih tipis atas Golkar. Saat ini tingkat keterpilihan PDIP sebesar 17,3%, disusul kemudian Golkar 16,2%, Partai Demokrat berada diurutan ketiga dengan elektabilitas 13,1%, Gerindra 10,0%, PKS 6,1%, PAN 5,0%, PKB 4,5%, Hanura 4,3%, PPP 4,1%, NASDEM 3,6%, PBB 2,5%, dan PKPI 1,4%, selebihnya 10,9% tidak menjawab atau tidak tahu.

Berdasarkan hasil survei nasional LSIN tersebut menunjukkan telah terjadi perubahan peta kecenderungan pemilih dibanding pemilu 2009. Pada Pemilu 2009 Partai Demokrat menjadi pemenang Pemilu dengan perolehan suara 20,85%, disusul Golkar 14,45%, dan PDIP 14,03%.

“Pemilu 2014 mendatang memungkinkan terjadi perseteruan sengit 3 parpol besar pemilu 2009 tersebut dengan Gerindra sebagai kuda hitam,” tutur direktur eksekutif LSIN, Yasin Mohammad.

Jika tidak ada kesalahan besar yang dilakukan PDIP dan tidak ada inovasi cemerlang yang dibuat oleh partai lain, maka PDIP akan mengulangi sejarah Pemilu 1999 dan menjadi pemenang pemilu 2014. Berdasarkan hasil survei LSIN, apresiasi positif diberikan oleh responden kepada PDIP. PDIP diminati secara luas dan dari beragam segmen pemilih, baik dari sisi geografi, ekonomi, pendidikan, dan usia pemilih. Secara geografis, dukungan terhadap PDIP merata di seluruh Provinsi di Indonesia, PDIP juga menjadi pilihan bagi kalangan ekonomi atas dan bawah, dari aspek pendidikan juga merata ke responden pendidikan rendah dan tinggi. Dari aspek usia PDIP juga mampu merebut kalangan anak-anak muda, dewasa, dan orang tua.

Yasin Mohammad menambahkan bahwa fenomena tersebut tidak lepas dari peran PDIP yang menempatkan diri sebagai partai oposisi pemerintah. Di posisi ini PDIP mampu menggaet simpati publik dengan sikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Kader-kader internal PDIP juga memberikan sumbangan besar terutama keberadaan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta yang selalu menjadi sorotan media dan publik. Munculnya tokoh-tokoh muda di PDIP dan minimnya kasus korupsi yang mendera kader PDIP adalah kunci utama. Jika PDIP mampu menjaga ritme yang berjalan, tidak menutup kemungkinan memenangkan pemilu 2014.

Sementara elektablitas Golkar, berada di bawah PDIP dengan selisih tipis. Sebagai partai besar, Golkar memperoleh dukungan dari responden secara geografis merata di seluruh Provinsi. Kantong-kantong suara Golkar masih kuat pada wilayah-wilayah yang menjadi basis suara Golkar, seperti Provinsi Banten, Kalimantan, Sumatra, dan Papua, masih tersebar kantong-kantong suara loyalis dan simpatisan Golkar.

Diurutan ketiga adalah Partai Demokrat, elektabilitas PD turun drastis dibanding hasil pemilu 2009, adalah kasus korupsi yang menjerat kader-kader PD dan perseteruan internal PD yang  menyumbang besar turunnya minat responden terhadap partai berlogo mercy tersebut. Dukungan terhadap PD secara geografis memang merata di seluruh Provinsi. Akan tetapi jumlahnya tergerus karena citra buruk pemerintah saat ini yang dipimpin dari kader Partai Demokrat dan banyaknya kader Partai Demokrat yang terjerat kasus korupsi.

Kemudian Gerindra diurutan keempat dan memungkinan menjadi kuda hitam pada Pemilu 2014. Sosok sentral Prabowo menjadi faktor utama mendongkrak elektabilitas Gerindra. Kemudian PKS berada di posisi kelima dibuntuti oleh PAN diurutan keenam. Sebagai partai dakwah, elektabilitas PKS tertinggi jika dibandingkan dengan partai berbasis Islam lainnya seperti PAN, PPP, PKB, dan PBB yang cenderung stagnan elektabilitasnya. Sementara partai pendatang baru Nasdem elektabilitasnya masih di bawah 5% bersama PKB, PPP, Hanura, PBB dan PKPI.

Berdasarkan kajian LSIN, ketertarikan responden terhadap Parpol tidak didasarkan pada profil, visi-misi, dan kinerja Parpol, dikarenakan pengetahuan publik masih awam terhadap profil, visi misi, dan kinerja Parpol. Pertimbangan respondon memilih Parpol cenderung berdasarkan pada aspek sosok atau figur Parpol, berikutnya adalah memperhatikan citra parpol atas hasil ekspose media.  Hal ini karena minimnya sosialisasi, komunikasi, pendidikan politik dan kaderasasi yang cenderung tidak baik yang dilakukan Parpol.

Hal ini sungguh memprihatinkan mengingat ketentuan UU No. 2 tahun 1999 dan UU No. 2 tahun 2008 tentang “Partai Politik” menyebutkan Parpol memiliki fungsi, tanggungjawab, dan kewajiban melakukan sosialisasi, komunikasi, pendidikan politik dan melakukan kaderasasi. Apalagi merujuk pada ketentuan PP No. 51 tahun 2001 dan PP. No 29 tahun 2005 tentang “Bantuan Keuangan Terhadap Partai Politik”, untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya tersebut Parpol disuplai anggaran dari APBN dan APBD yang nilainya Milyaran rupiah.

Survei LSIN ini mengambil sampel sepenuhnya secara acak (probability sampling), menggunakan metoda penarikan sampel acak bertingkat (multistage random sampling), dengan memperhatikan urban/rural dan proporsi antara jumlah sampel dengan jumlah penduduk di setiap Provinsi. Responden adalah penduduk Indonesia yang berumur minimal 17 tahun, dengan didasarkan pada aspek gender, geografi, sosio kultural dan sosio ekonomi, dan ideologi politik responden. Tingkat kepercayaan survei ini adalah 95% dengan Margin of error sebesar kurang lebih 3,1%. Pengumpulan data dilakukan melalui dua cara yaitu melalui telpon dengan panduan kuesioner dan wawancara langsung dengan panduan kuesioner oleh surveyor yang tersebar di seluruh Provinsi. (Yasin Mohammad/mar)

Sumber: liputan6.com

Share:


Related Posts

Pengamat LSIN: Mestinya Jika Ngabalin Dipihak Pemerintah Kritik Dijawab Elegan

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin menjadi sorotan setelah...

Survei LSIN: Elektabilitas PDIP, Gerindra dan Golkar Masih Dominan

Lembaga Survei Independen Nusantara merilis hasil survei. PDIP, Grindra dan Golkar masih mendominasi...

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add Comment *

Name *

Email *

Website